Bukan Mahasiswa Pemberani

Mahasiswa merupakan tunas bangsa, yang akan terus berkembang menjadi pohon yang menaungi bangsa ini dengan segala kecerdasannya. bukan kah begitu?

demo-mahasiswa
Gambar Ilustrasi

Namun kenyataanya banyak sekali mahasiswa yang belum mengerti akan hal itu, pemikiran kritis yang mereka punya disalah gunakan untuk aksi yang tidak tepat. Aksi unjuk rasa yang selalu menjadi kebanggaan para mahasiswa dengan berbagai polemik didalamnya.

Sudah cukup banyak aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa berakhir ricuh, tak jarang pula kericuhan tersebut mengakibatkan beberapa pihak terluka dan mengalami kerugian. Jika seperti itu apakah masih bisa aksi unjuk rasa dikatakan sebagai penyalur suara masyarakat? Saya kira tidak, dan tidak seharusnya aksi unjuk rasa dinodai dengan kericuhan yang dapat menyebabkan perpecahan diantara kita.

Namun sangat disayangkan terkadang kericuhan itu didasari atas alasan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik-baik. Yang menjadi masalah utama adalah kericuhan tersebut merugikan orang lain, membuat orang lain terluka hingga melakukan pelecehan seksual. Jelas hal tersebut bukanlah aksi unjuk rasa.

Peristiwa

10 September 2018, aksi mahasiswa yang dilakukan oleh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di depan gedung dewan berakhir ricuh. Mereka membakar selang air dan saling dorong dengan petugas keamanan. Tak puas di gedung dewan, kemudian mereka meneruskan aksinya di Pemkab Jember dan mendesak ingin bertemu dengan Bupati Jember. Suasana semakin ricuh ketika mereka hendak membakar papan ucapan selamat HUT RI. Sebenarnya masalah apa yang terjadi? 

Dikutip dari tribunnews.com “Aksi kami mengkritisi dunia pendidikan di Jember, salah satunya masih tingginya angka buta aksara di Jember” ujar Zulfikar Putra

Sebagai mahasiswa penakut entah mengapa saya merasa aksi tersebut tidak ada gunanya dan tidak seharusnya dilakukan. Jika memang masih banyak yang buta aksara mengapa para mahasiswa tersebut tidak melakukan aksi “Melek Aksara”? Jika memang itu aksi unjuk rasa untuk meminta perhatian dari para pejabat, apakah caranya harus seperti itu? Apakah harus melakukan kericuhan? Saya kira tidak seperti itu.

Dua minggu setelah aksi di Jember, terjadi kembali aksi serupa di Riau. Kali ini aksi yang dilakukan oleh perkumpulan BEM se-Riau lebih parah karena ada beberapa mahasiswa yang melakukan pelecehan seksual terhadap polwan yang menjadi barisan pertama saat aksi unjuk rasa tersebut dilakukan.

Berdasarkan kompas.com “Saat ingin menerobos blokade massa aksi langsung behadapan dengan polwan sebagai lapisan pertama pengamanan. Saat itulah terjadi pelecehan dan penganiayaan oleh mahasiswa terhadap polwan yang melaksanakan pengamanan unjuk rasa tersebut” kata Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Susanto.

Apakah hal seperti ini mencerminkan seorang mahasiswa? Saya rasa aksi tersebut bukan dilakukan oleh mahasiswa. Peristiwa tersebut sudah diluar batas dan seharusnya para pelaku dihukum sesuai aturan yang ada.

Sebenarnya masih banyak lagi aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh para mahasiswa hingga menyebabkan kericuhan dan kerugian. Apakah kita sebagai mahasiswa bangga dengan aksi tersebut? Saya tidak membenci unjuk rasa, tapi perlu diperhatikan unjuk rasa yang seperti apa? dan bagaimana cara pelaksanaannya? Bukan hanya aksi meng-atas namakan unjuk rasa tapi dalam pelaksanaannya tidak menyuarakan aspirasi rakyat.

Pemikiran

Saya bukan merupakan mahasiswa pemberani, saya tidak suka keributan, kericuhan, pertikaian, dan perpecahan. Untuk mengatasi masalah ketidakadilan dan ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah, seharusnya bisa diatasi tanpa adanya kericuhan dan keributan yang mengatasnamakan unjuk rasa. Kita sebagai mahasiswa seharusnya belajar dengan sungguh-sungguh, tekun dan rajin agar suatu saat nanti kita bisa merebut kursi pemerintahan itu. Jika kita sudah duduk di kursi tersebut, maka jalan cerita keadilan, kepuasan dan hak-hak masyarakat mungkin akan berbeda. Karena kekuasaan pemerintahan sudah  ada ditangan kita. Jadi saat ini mari kita rebut kursi kekuasaan itu, dan satu hal yang terpenting, jika kita sudah duduk di kursi tersebut jangan sungkan untuk mendengarkan  suara adik angkatan kuliah kita yang sedang berunjuk rasa agar tidak terjadi kericuhan.

bukan mahasiswa pemberani

2 thoughts on “Bukan Mahasiswa Pemberani”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *