Jalan Tuhan Lebih Indah

Tahun 2019. Sekitar 5 tahun yang lalu, kisah nyata ini dimulai.

jalan-tuhan-lebih-indah
Gambar Ilustrasi

Saat itu aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas XII, banyak mimpi yang tercipta saat itu. Ku tuliskan mimpi-mimpi yang ingin aku gapai di atas selembar kertas, dan ku pajang tulisan indah tentang mimpi-mimpi itu di dinding kamar tidur .

Dalam kejauhan coretan mimpi-mimpi itu terlihat seperti garis lurus teratur berwarna hitam, namun ada sebuah tulisan yang berukuran besar dan terlihat jelas dari kejauhan. Itu adalah salah satu mimpiku, mimpi terbesar dalam hidupku. Tertulis dengan jelas “Masuk ITB”.

Bisa di bilang aku adalah siswa yang tak tau diri, memilih jurusan IPS saat SMA namun ingin masuk jurusan Teknik Informatika di ITB, lucu memang. Tapi yang jelas, saat itu semua rencanaku tertuju pada universitas yang ingin aku pilih saat sudah lulus SMA nanti. Beruntung saat itu aku berkesempatan mendapatkan beasiswa bidikmisi dan berkesempatan menempuh jenjang strata1 (S1) gratis di Universitas favorit.

Hingga akhirnya aku putuskan untuk mendaftar pada universitas impianku yaitu ITB, walaupun saat itu teman baik sekaligus rival ku sudah memperingatkan untuk mendaftar di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) saja karena kami sudah mendapatkan “kartu AS” jika mendaftar disana. Hal tersebut dikarenakan kami pernah mengikuti National Geo Smart Commpetition 2013 yang di adakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia.

National Geo Smart Commpetition 2013

Saat itu aku tidak mendengarkan nasehat teman ku, dan tetap mendaftarkan diri di ITB. Keras kepala memang, hingga akhir nya tindakan “bodohku” itu mengakibatkan aku tidak diterima mendapatkan beasiswa bidikmisi karena persaingan yang ketat dan penilaian yang “gaib”. Guru ku pernah bilang bahwa aku jangan terlalu berharap pada beasiswa itu karena penilaian yang “gaib” tersebut. Sebenarnya aku punya alasan tersendiri mengapa aku masih nekat untuk mendaftar di ITB. Jika aku gagal mendapatkan beasiswa bidikmisi dan tidak diterima di ITB maka aku bisa mendaftar pada universitas swasta, pikirku saat itu. Karena sebelumnya orang tua ku sudah menyanggupi untuk pembiayaan masuk kuliahku.

Tapi semua itu hanya angan saja, kenyataannya orang tua ku sangat mengandalkan beasiswa tersebut karena uang yang dikumpulkan untuk pembiayaan kuliahku di pakai untuk keperluan lain. Hingga akhirnya kedua orang tua ku menyuruh aku untuk bekerja terlebih dahulu. bekerja, bukan kuliah. ini sangat jauh diluar rencana ku.

Saat itu juga, semua terasa diam kaget dan bercampur emosi. suasana yang tercipta sangat emosional, ingin rasa nya marah, tapi pada siapa, toh ini juga akibat “kebodohanku” tidak mau memilih UPI yang sudah jelas saat itu aku memiliki kartu “AS”.

Akhirnya aku mengikuti keinginan kedua orang tua ku, aku bekerja menjadi buruh pabrik di kawasan industri MM2100, Bekasi. Tercatat 3 perusahaan yang aku tempati saat itu, dan semuanya berakhir dengan tidak seharusnya. Bukan di keluarkan, tapi aku resign. Hingga akhirnya aku bekerja pada sebuah pabrik otomotif dimana gaji nya saat itu cukup besar. Hal pertama yang aku pikirkan saat mendapatkan pendapatan yang lumayan adalah kuliah.

Sebenarnya saat aku bekerja di pabrik tersebut seringkali mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari beberapa atasan, mereka bertindak semau hati tanpa memikirkan bawahannya. TAPI, senang tidak senang, aku harus tetap bekerja di pabrik ini karena kebutuhan biaya untuk kuliahku.

Pada september 2016, aku mendaftar kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Pelita Bangsa Program Studi Teknik Informatika. Padahal satu setengah tahun kedepan aku sudah habis masa kontrak bekerja di Pabrik itu. Tapi aku tidak peduli tentang biaya kuliah untuk kedepannya seperti apa, yang jelas saat itu aku ingin kuliah dan tekad besar ku itu mengalahkan pemikiran “Bagaimana kedepannya?”

Aku sangat menikmati kuliahku, aku dapat belajar dan berkompetisi dengan mahasiswa yang lain. Seru memang. Bahkan aku tidak memikirkan ijazah seperti para mahasiswa yang lainnya. Jika aku diberikan pilihan, aku lebih memilih kuliah selamanya asalkan gratis, dari pada mendapatkan ijazah. Tapi ada satu hal yang tidak aku sukai dari dunia pendidikan ini, yaitu ada beberapa peraturan yang membuat mahasiswa terkekang dan tidak dapat berfikir kreatif. Pembelajaran yang aku inginkan sebenarnya adalah mempelajari apapun yang aku sukai tanpa harus memikirkan nilai yang didapat.

Beberapa bulan setelah aku kuliah, aku mendapat kan teman-teman baru. Teman-teman baru tersebut berasal dari siswa yang telat mendaftar pada tahap pertama. Salah satu dari teman ku itu merupakan seorang bapak yang sangat supel dan mudah bergaul dengan anak muda. Bapak Yanwar Purnama namanya, tak disangka ternyata beliau adalah pengusaha yang mendirikan perusahaan indowebsite dan brainet.

Singkat cerita, satu minggu sebelum masa kontrak ku di pabrik otomotif habis, aku ditawarkan okeh Bapak Yanwar untuk bergabung dengan perusahaan indowebsite. Ini sungguh hal yang tak disangka, bagaimana tidak, aku yang sudah tertarik dengan komputer dan teknologi sejak SMP ditawarkan bekerja pada perusahaan yang bergerak dibidang teknologi. Ini merupakan surga dunia, dimana aku bekerja pada hal yang aku suka.

kang-iwe
Kang IWE

Bayangkan jika dulu, saat aku lulus SMA diterima di ITB atau UPI mungkin saat ini aku tidak bisa menikmati pekerjaan seperti ini. Mungkin ini lah jalan indah yang diberikan oleh Tuhan untuk ku. Bagaimana dulu Dia menggagalkan rencanaku untuk masuk universitas favoritku, bagaimana dulu saat Dia mengecewakanku karena tidak bisa meneruskan ke jenjang kuliah, akhirnya saat ini terjawab sudah. Bagaimana Dia menunjukan bahwa jalanNya lebih indah.

Note: Sebenarnya masih banyak kejadian dan situasi yang tidak dapat diceritakan pada tulisan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *